Posted by AMRI - Knowledge Entrepreneur in : mba , trackback

Jarak antara kita dan kesuksesan kehidupan harus dipupuk dengan jembatan pengembangan, yaitu pembentangan kekuatan yang ada pada diri kita. Jembatan jangan dirusak secara sengaja oleh kemalasan, keminderan dan ketakutan untuk menyeberang.
Kemalasan, sering mempersempit dan merapuhkan pembentangan kekuatan.
Kita sering malas untuk bangun satu jam lebih cepat dari manusia pada umumnya. Padahal, kalau kita mau bangun satu jam lebih cepat dari manusia pada umumnya, banyak hal produktif yang bisa kita kerjakan. Kalau sehari satu jam lebih awal, berarti dalam sebulan ada tiga puluh jam. Waktu tiga puluh jam itu, sudah bisa untuk menyelesaikan banyak hal dalam kehidupan kita. Tentunya, masih banyak kemalasan-kemalasan lainnya …….
Keminderan, sering mempersempit dan merapuhkan pembentangan kekuatan.
Kita sering minder untuk banyak hal yang sebenarnya sangat tidak rasional. Kita minder, gara-gara badannya pendek, padahal badan yang pendek justru mengurangi resiko “kepala” terbentur benda-benda lingkungan, seperti kalau Obama presiden AS kepala terbentur pintu pesawat. Kita minder, gara-gara badan terlalu jangkung, padahal justru dengan badan jangkung itu, banyak hal yang bisa diketahui dibanding orang lain. Kita juga minder, karena pendidikannya rendah, padahal dengan pendidikan rendah yang punya kesadaran, justru lebih mudah menerima ilmu, daripada pendidikan tinggi yang gelasnya penuh, sehingga sukar diisi ilmu baru sebab merasa ilmu yang dimiliki sudah penuh. Begitu juga yang pendidikannya tinggi menjadi minder gara-gara mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dan atasannya justru berpendidikan lebih rendah. Padahal, dengan pendidikan tinggi dan mendapat pekerjaan tidak sesuai dengan tingginya pendidikan, bisa dijadikan alat lompat pembelajaran kalau suatu ketika mempunyai anggota tim yang semakin hari semakin banyak.
Ketakutan, sering mempersempit dan merapuhkan pembentangan kekuatan
Kita sering merasa takut pada hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi dan bahkan tidak pernah terjadi. Kalau misalnya terjadipun, selama disikapi dengan cara yang produktif, kejadian itu bisa dijadikan alat lompat yang semakin produktif. Orang mau menikah, takut jadi janda atau duda, pertanyaannya adalah seberapa banyak orang yang setelah menikah menjadi janda atau duda? Tentu sangat sedikit. Kalau misalnya ada yang menjadi janda atau duda, sebenarnya juga tidak apa-apa, sebab menjadi janda atau duda, menunjukkan bahwa kita sudah pernah menikah. Bagaimana kalau yang belum menikah, juga tidak perlu takut, sebab tidak akan pernah menjadi janda atau duda, gampang khan.
Sekarang juga banyak diantara kita yang takut kalau diberhentikan dari perusahaan, sedangkan anak-anak masih kecil, ada cicilan motor, rumah, mobil atau pengeluaran-pengeluaran lainnya. Padahal, juga belum banyak, sampai detik ini, yang dikeluarkan. Kalau misalnya sampai terjadi pemberhentian dari pekerjaan, mungkin Allah menghendaki kita untuk menikmati rizki dari hasil usaha sendiri, istilah kerennya adalah pengusaha he..he…
Mari memperkokoh jembatan penyeberangan kita, agar kesuksesan-kesuksesan hidup bisa kita nikmati dari detik perdetik jejak langkah kita. Tentunya kesuksesan hidup sangatlah luas, salah satunya hati kita selalu tenteram dalam menghadapi aneka persoalan kehidupan dan terjauh dari rasa malas, minder dan takut untuk melangkah.
Berani menghadapi tantangan untuk memperkokoh jembatan penyeberangan atau malah memilih tertimpa oleh jembatan yang kita buat itu!!!. Bagaimana pendapat Anda ???
Comments»
Ass Pak Amri, saya sering baca tapi jarang comment, maaf sedikit pertanyaan mengenai tema diatas, menurut Pak Amri pacaran it perlu a/ tidak mksdnya sebagai jembatan penyebrangan kejenjang berikutnya? terima kasih Pak blognya sangat inspiratif pisan Wassalam.
Kalau saya secara pribadi, ada dua jawaban (1) Secara agama, tidak ada yang namanya pacaran; (2) Secara umum, lebih efektif kenal calon istri atau suami itu melalui jejaring berbagai pihak. Jadi, melihat kwalitas seseorang, bisa terdeteksi dari siapa saja temannya.
Betul mas amri, rasa malas sering hinggap pada diri kita. minta doanya mas amri saya sedang menulis tesis dan belum selesai-selesai nih he he
Kita saling mendoakan mas. Andi, semoga kita bisa hidup lebih bermanfaat … ngambil PhD sekalian yeach ….
Wah semoga aku tidak menjadi seperti diatas, “Malas,Minder,Takut”…
Tapi rasanya semua itu masih menginggap di kehidupanku…
Kita harus selalu mengupgrade diri kita sehingga kita tidak akan ketinggalan dengan sekeliling maupun pekerjaan kita. Tapi Assalamualaikum Wr. Wb. kalau upgrade sebagai jembatan menuju sukses dan kita harus selalu upgrade trus ujung jembatannya seperti apa? Bagaimana kita bisa disebut telah sampai disebrang jembatan….
Mantaaaaappppp Pak Amri. lagi mbangun jembatan…….
Mas. Wawan ….. ayo rame-rame membangun jembatan yang kokoh namun lentur …
Apa kabar mas. Arya …. ujung jembatan adalah kematian, upgrade dipergunakan pada setia detik, titik-titik jembatan itu ….. jadi keberhasilannya ya .. setiap titik-tik kehidupan kita …
Om Affandi ….. sedang dibangun … batu saya yeach … agar jembatannya kokoh yang lentur …. agar tidak mudah patah euy ….
Assalamu’alaikum Mas Amri & Salam Kenal
Saya setuju banget nih ama tulisannya mas amri, cuma akhir - akhir ini
saya kok rasanya udah bingung gitu mau bikin jembatan yang mana lagi. Ada ide nggak buat membuat jembatan yang kira-kira pas gitu Mas.
Thank’s Sebelumnya
hamdalah pak Amri sekarang saya lagi bangun jembatan kepengen usaha mandiri, kelamaan ngak ya kalau rencananya 10 bln lagi
Apa kabar mas. Agus …… jembatan yang pas adalah sangat kokoh sekaligus sangat lentur he..he…
Haloooo Pebi (maaf mas atau mbak yeah) terlalu lama kalau 10 bulan lagi, keburu orang lain membangun jembatan disitu …….
Untuk memulai penyeberangan memang sulit, tapi ketika kita mampu melewatinya dengan sukses…. maka kita akan menjadi manusia sempurna, yg mmpu mengalahkan rasa takutnya sendiri. Maju terus Pak Amri!
Apa kabar mbak Cici Silent …. semoga dengan Silent-nya … bisa menyeberang melalui banyak jembatan he..he…
Jembatan Kehidupan, satu ato banyak ya…. atau Jembatan Besar yang terdiri dari jembatan2 kecil… Apa aja lah… YANG PENTING TULISANYA INSPIRATIF BANGET… Suwun Mas AMRI…
Jembatannya kokoh yang lentur, jadi bisa membesar, mengecil, dan bercabang secara otomatis he..he… apa kabar mas. Farid … semoga kita semua semakin bersemangat …
siap!!! Memperkokoh jembatan penyebrangan menuju kehidupan yang lebih baik. Mulai ambil langkah utk memperkokohnya.
Terima kasih pencerahannya, Mas!!!
lagi proses membangun jembatan baru mas, dibuat dari tekad yang kokoh dan kemauan sekaligus realisasinya,…mau nyumbang semen motivasi?..hehe..ditunggu ya!
Apa kabar Esa …. salam semangat selalu …. jembatan jangan sampai roboh …
Sip … sip … Erry …. semin Motivasi segera dikirim …..