Jadi Korban 11 December, 2008
Posted by AMRI - Knowledge Entrepreneur in : mba , trackbackBerkurban atau jadi korban, berkorban berarti kita mau meluangkan waktu untuk mengurbankan sesuatu agar diri bermanfaat bagi banyak orang. Sedangkan jadi korban, berarti kita enggan mengurbankan sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan banyak orang.
Pak. Paimo, setiap hari mengurbankan waktunya untuk pergi ke pasar jualan sayuran. Beliau tidak hanya ingin mendapatkan laba, sehingga bisa menyekolahkan anak-anak dan saudaranya. Tetapi beliau juga ingin mempermudah orang lain untuk mendapatkan sayuran yang segar, sehingga bisa memasak untuk bekal anak-anaknya pergi kesekolah. Pak. Paimo, setiap hari selalu berkorban untuk diri dan lingkungan, sehingga hidupnya tidak jadi korban.
Tini, seorang pembantu rumah tangga, berpenghasilan sangat cukup, sebab setiap bulan uang gaji diterima secara bersih. Tidak perlu mengeluarkan uang untuk transfortasi, biaya kost, biaya makan dan beberapa keperluan lain. Namun, ada satu kelemahan yang disebabkan ingin tidak mau ketinggalan zaman. Yaitu, uangnya, sebagian besar habis untuk beli pulsa dan membeli hp yang keren, agar mampu mengikuti perkembangan zaman. Sebab, dirinya dan beberapa temannya, merasa diri terlihat sukses dengan lambang-lambang fisik, yaitu hp bagus, baju bagus, penampilan bagus. Dampaknya adalah seumur-umur dirinya tidak ada peningkatan ekonomi dalam hidupnya. Waktunya habis untuk berkorban kerja keras meratau ke kota besar, namun dirinya terkorbankan oleh prilakunya sendiri. Yaitu uang kerja kerasnya menguap dengan nilai manfaat yang sangat rendah.
Ada seorang pengusaha setiap hari kerja keras mencari uang untuk menghidupi keluarga dan hasil kerja kerasnya itu, menjadikan keluarganya berkecukupan. Bahkan tetangga dan saudara-saudaranya juga sering menikmati hasil kerjanya. Beliau berhasil berkorban dalam hidupnya untuk kepentingan orang banyak. Pada suatu hari, entah setan apa yang merasuki dirinya, pengurbanan hidupnya selama ini, juga mengarah pada sektor jadi korban. Dirinya coba-coba untuk berdekatan dengan PSK, karena ketagihan, seiring dengan bisnisnya yang semakin berkembang, maka sering keluar kota dan berdekatan dengan PSK-Pekerja Sex Komersial, juga semakin sering dibanding sebelumnya. Suatu hari, terjadi sesuatu yang sangat menghebohkan, ketika beliau berdekatan dengan PSK di sebuah hotel, malaikat pencabut nyawa datang. Beliau meninggal satu kamar dengan PSK tersebut. Pengurbanan dirinya untuk menghidupi keluarga dan bermanfaat bagi banyak orang, akhirnya mati, jadi korban atas prilakunya sendiri.
Akhir-akhir ini, kami sering kedatangan tamu, ada yang datang secara fisik, ada juga yang datang secara non fisik yaitu melalui sms, email, dan juga chating. Sebagian besar dari tamu-tamu ini mengindap gejala penyakit jadi korban. Mereka bukan jadi korban karena kejahatan lingkungan, namun menjadi korban dari prilaku gengsinya sendiri.
Ada yang ingin pekerjaan, setelah diberi pekerjaan mereka gengsi dengan pendidikannya yang tinggi, indek prestasinya yang bagus, dan juga asal muasal perguruan tinggi yang terkenal. Bahkan ada juga, yang gengsi karena dulu pernah sukses, walaupun sekarang gagalnya minta ampun. Ketika, mereka sering datang secara fisik, sms, email, dan juga chating. Agar penyakit gensinya tidak menjadi kangker gengsi yang akut, biasanya dengan kelakar saya mengucapkan kepada mereka semua:”Kalau gengsi bisa mengenyangkan hidup kita, maka, makanlah gengsi itu”. Ada yang akhirnya berubah total, namun ada juga yang tetap memilih makan gengsi.
Hidup, memang aneh binti ajaib. Ada yang senang berkorban, namun lebih banyak yang memilih jadi korban prilakunya sendiri. Berani berkorban agar hidup tidak jadi korban !!!! Bagaimana pendapat sahabat ???


Comments»
saya pilih jadi hewan kurban aja…mereka selalu bertasbih dan menghamba pada Alloh..cz mereka tidak punya pikiran macam-macam yang mengancam keikhlasan berkurban.
Halooooooo hepi ardhi …… aya … aya …. wae he..he..
Benar Pak Amri, kalau kita makan gengsi nggak bakalan kenyang - kenyang. mendingan kita makan sate dari daging kurban..ya nggak?
semoga sehat dan sukses selalu Pak…
Sate … sate … sate …… mari makan sate … bukan makan gengsi, sebab gengsi nggak bisa mengenyangkan. Halloooo om Riyan …..
Memang bener Mas. Penyakit gengsi ini simpel tapi bahay banget.
Banyak kawan yg “memaksakan” agar terlihat sukses secara “fisik” dengan benda2. Yang mana akhirnya mereka menjadi kurban dari perbuatannya.
Ya Alloh, jauh kan lah kami dari sifat2 buruk ini.
Salam
duh, tersindir abis,…..seringkali maksudnya mengurbankan diri buat kepentingan orang banyak, akhirnya jadi kurban karena tidak bisa memanage diri sendiri. Terima kasih ’sentilan’ nya mas. Semoga saya bisa memperbaiki diri.
Apa kabar om Setiadi ……..
Gengsi yang tidak mengenyangkan ….. memang sering melanda kehidupan kita ….. dan kita sering tidak merasakannya.
Haloooo Erry ……….
Kita harus berkurban … berkurban … dan berkurban …..
Tapi jangan sampai hidup kita jadi kurban …….
Kalau misalnya terjadi kurban perasaan … kita belajar ikhlas he..
Asslamu’alaikum
Alhamdulillah dari dulu saya diajarkan oleh orang tua untuk tidak gengsi, Beruntunglah bagi saya tidak makan gengsi. Makan daging korban aja.
Walah …. om Wawan … makan daging korban nggak tawar-tawar ….Selamat tidak makan gengsi he..he..he…
Iya kemarin ibu berkorban seekor kambing hasil bisnis madumongso…
Om Wawan …. dengan bisnis madumongso, bisa berkorban. Bagaimana dengan keahlian komputernya, berani berkorban atau memilih jadi korban he..he…
milih rela berkurban aja deh. Kalau diri ini jadi korban orang lain, apalagi diri sendiri repot, rugi lahir batin, dunia kahirat juga. Mendingan hidup sementara ini bisa jadi manfaat bagi banyak orang toh
terima kasih untuk mas amri atas pengorbanan waktu dan pikirannya untuk kami yg haus tausiah dan pencerahan, alhamdulillah sekolah kami berqurban 15 ekor kambing tahun ini dari tahun lalu yg hanya 8 ekor sebagian kami pesan dari villa domba. setelah kami korbankan waktunya memberi motivasi tentang pentingnya berqurban bukan jadi korban ya mas amri he he
Apa kabar Syarifin …… berkurban … berkurban ….. and berkurban …..
Apa kabar Om Andi Rustandi ……….di villa domba … stok kambingnya banyak? Selamat berkurban terus yeach …. agar tidak jadi korban he..he..
wihhhh… pelan2 meninggalkan gengsi…….
Loading………
Thanks pak
Apa kabar om Afandi …….
Mari kita Loading …. dan meninggalkan gensi secepatnya ….
Mau mengawali dg pertanyaan Mas Amri ketika hari raya kemarin, “Berkurban atau jadi kurban …” alhamdulillah, tahun ini diberi kesempatan oleh Allah untuk berkurban, dan saya percayakan ke Dompet Dhuafa Bandung karena saya pernah diberi banyak kesempatan untuk berada di lingkungan tersebut sehingga sudah tahu lebih banyak cara kerjanya.
Soal berkorban dan jadi korban, kayaknya harus ada penyadaran ya Mas. Hehe. Soalnya ga jarang kita merasa telah berkorban untuk keluarga dan sekitarnya tapi di sisi lain, ga sadar klo sebenernya kita dah jadi korban. Taruh lah ketika kita bekerja keras untuk memenuhi keluarga, kadang tak jarang sering berada di luar rumah. Padahal orang rumah belum tentu hanya membutuhkan materi, tapi juga kehadiran kita. Bagaimana menurut Mas Amri dan sahabat-sahabat?
Halo Esa … menurut saya sich … berkurban atau jadi kurban he..he..he.. nggak nyambung yeach
mas kulit kambing masih ada di rumah nih, ada yang perlu ngak?
oya mas mengenai berkorban jadi inget sesuatu ternyata memang benar kalo kita mau berkorban apapun itu bentuknya dan utk siapan itu didasari dg ketulusan maka tinggal tunggu aja hasilnya sungguh sesuatu yang akan membahagiakan krn kita mendapatkan dari apa yg kita berikan bukan yg kita minta (waduh nyaingin mas amri nih:)), hidup berkurban!!!
Apa kabar Om Nurul …….
Mari kita sama-sama berkurban, agar tidak jadi kurban ….
Ayo bersepeda dan dilanjutkan mendayung …….
Bner tuh pak! Kalo gengsi, makan aja tuh gengsi, dijamin gak bakalan kenyang, he he. Terus mencerahkan dg tulisannya pak Amri !
Gambarnya serem
Apaka kabar cici silent … mari kita tidak makan gengsi … nggak mengenyangkan …..
Halooo Tea … gambarnya serem, tapi semangat berkorbannya senangggggggg