Laskar Pelangi 30 October, 2008
Posted by AMRI - Knowledge Entrepreneur in : mba , trackback
Bagian tiga
Pada halaman 475 novel laskar pelangi, Ikal membahas tentang nasib, usaha dan takdir bagaikan tiga bukit biru sama-samar yang memeluk manusia dalam lena. Mereka yang gagal tak jarang menyalahkan aturan main Tuhan, melalui takdir-Nya, memang mengharuskan mereka miskin.
Bukit-bukit itu membentuk konspirasi rahasia masa depan dan definisi yang sulit dipahami sebagaian orang. Seseorang yang telah berusaha menunggu takdir akan mengubah nasibnya. Sebaliknya, seseorang yang enggan membanting tulang menerima saja nasibnya yang menurutnya takkan berubah karena semua telah ditakdirkan.
Inilah lingkaran iblis yang umumnya melanda para pemalas. Tapi yang pasti, pengalaman selalu menunjukkan bahwa hidup dengan usaha adalah mata yang ditutup untuk memilih buah-buahan dalam keranjang. Buah apapun yang didapat kita tetap mendapat buah. Sedangkan hidup tanpa usaha adalah mata yang ditutup untuk mencari kucing hitam didalam kamar gelap dan kucingnya tidak ada.
Kasus ini bisa dilihat pada tokoh laskar pelangi yang bernama Mahar. Ia hanya berijasah SMA. Mereka adalah orang sangat genius seperti Lintang dan mungkin seperti temen-temen kita yang lain. Kejeniusannya, dinisbikan secara paksa oleh tanggungjawab pada keluarga.
Mahar tak bisa meninggalkan rumah untuk berkiprah di lingkungan yang lebih mendukung bakatnya sejak ibunya sakit-sakitan karena tua. Sebagai anak tunggal, ia harus merawat ibunya siang malam karena ayahnya telah meninggal.
Mahar sempat menganggur dan setiap hari, tanpa berusaha, menunggu takdir menyapanya. Ia mengharapkan surat panggilan dari Pemda untuk tenaga honorer. Ketika itu ia berpikir kalau takdir menginginkannya menjadi seorang guru kesenian maka ia tak perlu melamar. Ternyata cara berpikir seperti itu tak berhasil.
Maka ia berusaha menulis artikel-artikel kebudayaan melayu. Artikelnya menarik para petinggi, lalu ia dipercaya membuat dokumentasi permainan anak tradisonal. Dokumen itu berkembang ke bidang-bidang lain seperti kesenian dan bahasa yang membuka kesempatan riset kebudayaan yang luas dan memungkinkannya menulis beberapa buku.
Jika dulu ia tak menulis artikel maka ia takkan pernah menulis buku. Melalui buku-buku itu ia ditakdirkan menjadi seorang nara sumber budaya. Kasus mahar ini, nasib adalah setiap gerakan-gerakan konsisten usahanya dan takdir adalah ujung titik-titik itu. Sekarang Mahar sibuk mengajar dan mengorganisasi berbagai kegiatan budaya.
Tentu saja pekerjaan-pekerjaan itu tak mampu menyokong nafkah ia dan ibunya, maka honor kecil tapi rutin juga Mahar peroleh dari orang-orang pesisir yang meminta bantuannya melatih beruk memetik buah kelapa. Ia sangat ahli dalam bisang ini. Dalam tiga minggu seekor beruk sudah bisa mengguncang-guncang kelapa untuk membedakan mana kelapa yang harus dipetik.
Itulah kisah Mahar kawan, jadi mari kita koreksi cara berpikir kita selama ini, Jangan-jangan, hidup semakin tua dan tenaga semakin berkurang, hasil karya juga tidak pernah ada. Setelah itu, kita menyalahkan takdir.
Berani hadapi tantangan membuat gerakan-gerakan usaha secara konsisten, agar kita bisa menikmati ujung-ujung titik takdir. Atau hidup akan ditelan takdir!!!. Bagaimana pendapat Anda???.


Comments»
aslkm..
Memang jika ingin berubah tapi tanpa usaha itu seperti pungguk merindukan bulan saja.
Hanya nerkhayal dan berkhayal..
SAYA HARUS BERUBAH.
Amin
Apa kabar om Wawan ……
Selamat berubah dan tetap semangat ……
Mencerahkan kang. Terima kasih sudah berbagi. Salam kenal.
Apa kabar welly …..
Salam kenal kembali
Dan, semoga kita menemukan takdir-takdir baru
Seseorang yang enggan membanting tulang menerima saja nasibnya yang menurutnya takkan berubah karena semua telah ditakdirkan. “ Inilah lingkaran iblis yang umumnya melanda para pemalas”..
Jangan-jangan, hidup semakin tua dan tenaga semakin berkurang, hasil karya juga tidak pernah ada. Setelah itu, kita menyalahkan takdir.
Atau hidup akan ditelan takdir!!!….
Setuju mas….. ayo kita pindah ke takdir yang lain yang belum pernah kita Coba… jangan takut……….. Bangkit……… dan Lawan……….
Haloooo om edhie …
Mari kita menemukan takdir baik sebanyak-banyaknya
Selama melangkah dari titik-titik kehidupan menuju takdir-takdir kehidupan
Hallo Mas Amri,..jangan khawatir,.saya mau ko` ngasih komen di sini..hehe,..
“Terlena”,..itu yang sering membuat kita lupa bahwa banyak hal lain yang dapat kita lakukan selain dari yang selama ini kita geluti. Hmm,..mau nulis apalagi ya?..ya itu setuju sama ajakannya Mas Amri,..mari kita menemukan takdir baik sebanyak-banyaknya! Yuuuk!!
Halo mbak Erry ….
Semoga tetap semangat mencari takdir-takdir baru dalam detik kehidupan.
kena lagi Pa mas… hehehe..
SIAAAAAAAP GRAAAAAAAAK
Halo om Tino ….
Grakkkk-nya ….. harus siap yeach …..
perubahan, sepertinya sudah seperti hal yang wajib untuk dilakukan bagi umat manusia ya pak. dunia pun juga mendambakan perubahan.