Top Markotop; Kren Markeren 14 February, 2008
Posted by AMRI - Knowledge Entrepreneur in : mba , trackbackSebenarnya sich, tidak ada dalam kamus bahasa Indonesia tentang “Top Markotop”, Cuma orang akan paham artinya yaitu sangat top banget rasa enaknya. Begitu juga tentang “Kren Markeren”, yang mungkin juga dimaksudkan adalah keren habis atau sangat keren banget.
Top markotop; kren markeren, telah kami alami pada tanggal 09 Februari 2008 sore hari sampai malam, disambung dengan 10 Februari 2008 dan diakhiri tanggal 11 Februari 2008 dinihari sampai siang hari.
Mengapa dikatakan “top markotop; kren markeren”, sebab pada saat itu, kami mendapat banyak kesematan tak terduga dan kalau dinikmati sangat menyenangkan dan penuh inspirasi. Sebenarnya, kegiatan pokok adalah pukul 10.00-12.00 WIB pada tanggal 10 Februari 2008, namun kegiatan pokok itu, berkembang tak terduga menjadi aneka kegiatan pokok lainnya.
Pertama; top markotop; kren markeren, dialami pada tanggal 09 Februari 2008, ketika kami mendapat kabar bahwa panitia kegiatan di Tasik untuk mengisi acara tanggal 10 Februari 2008 pukul 10.00-12.00, memberikan informasi bahwa mereka menyediakan teman bersepeda dipagi hari. Dan mereka pun menyediakan jadwal tambahan untuk mengisi acara pencerahan spiritual tanggal 10 Februari 2008 pukul 05.00-06.00 WIB di Radio 101.3 Martha FM.
Kedua; top markotop; kren markeren, dialami ketika kami sudah sampai hotel Galunggung Tasikmalaya pada tanggal 9 Februari 2008, kami tidak bisa tidur karena dua penyebab. Penyebab pertama karena kami datang sudah pukul 23.30 WIB, sehingga besok takut kesiangan dan siaran menjadi terganggu. Kedua, kami tidak bisa tidur karena kebetulan mendapat kamar dekat tempat parkir mobil yang jam 02.00 WIB dini hari, beberapa tamu sudah ada yang keluar hotel, entah mau kemana, sehingga terdengar suara mesin mobil, pintu mobil beberapa kali dibuka dan ditutup, bagian parkir membunyikan peluit dan teriak mundur-mundur dan lain sebagainya. Tapi kami sangat bersyukur, sehingga tidak bangun kesiangan, dan waktu digunakan untuk aktivitas spiritual lainnya.
Ketiga; top markotop; kren markeren, dialami ketika siaran di radio 101.3 Martha FM, rupanya pendengar sangat antusias dengan pembahasan “dare to dream” yaitu bagaimana hidup harus berani membuat impian-impian, dan lebih keren lagi, ketika diakhir acara ada yang bertanya “setelah siaran, acaranya kemana pak?”, dengan spontan saya jawab mau sepedahan keliling kota Tasik, ingin melihat suasana kota Tasik yang jago wirausaha. Rupanya, jawaban itu, didengar oleh beberapa temen pesepeda, sehingga acara selesai, keluar studio, beberapa temen pesepeda sudah siap. Padahal kami belum kenal sebelumnya. Akhirnya kami bersepeda keliling kota Tasik sampai pukul 08.15 WIB dan ditutup dengan makan bubur bersama dan buah rambutan. Semuanya ditraktir oleh Bapak. Heri, yang kebetulan beliau bekerja di Pertamina Tasikmalaya. Ketika pulang ke penginapan, rupanya panitia menyediakan beberapa bungkus makanan untuk bekal teman-teman yang menemani kami bersepeda.
Keempat; top markotop; kren markeren, ketika kami mengisi acara ada tanggal 10 Februari 2008 pukul 10.00-11.30 WIB, dengan audien diluar perhitungan kami, saya kira sekitar 50 orang, rupanya sekitar 500 sampai 600 orang, dengan menggunakan layar 4×6m dengan peserta sahabat-sahabat muda penuh semangat dengan kepolosannya
Kelima, top markotop; kren markeren, ketika acara selesai dan persiapan cek out penginapan, kami makan siang dengan panitia, menikmati sate maranggi, walaupun sedang asik-asiknya makan, saya teringat janji dengan temen-temen pesepeda yang baru kenal itu, janjinya adalah mereka kepingin mengantar kami bersepeda ke Gunung Galunggung. Akhirnya, kami agak “menipu” panitia, yaitu izin ke kamar kecil, padahal kabur ke penginapan; rupanya diluar dugaan, ada 25 pesepeda dengan sepeda sangat kotor sudah siap menunggu mengantar ke gunung galunggung. Rupanya, temen-temen yang tadi pagi mengajak keliling kota Tasik, sambil menunggu saya selesai mengisi acara, mereka menjelajah pegunungan dan bukannya pulang ke rumah. Akhirnya, kami berangkat mengayuh sepeda menuju Gunung Galunggung, sebenarnya 25 lima orang itu, dalam kondisi kelaparan, namun saya tawari makan, katanya nanti saja diperjalanan, mungkin mereka merasa tidak enak, sebab temennya banyak banget. Perjalanan menuju Gunung Galunggung, memerlukan waktu sekitar 1 jam, sebab perjalanannya cepat, walaupun ada juga yang sedikit tertinggal, tapi mereka memang sangat terlatih, walaupun sepedanya seadanya, tapi dengkulnya luar biasa. Kami tidak sempat membeli nasi diperjalanan, sebab mengejar waktu. Sesampai ditempat parkiran bawah, yaitu dekat kolam renang, akhirnya kami sepakat untuk makan. Masuklah kami ke sebuah rumah makan, rupanya pemilik rumah makan tidak menyiapkan makanan siap saji. Hasil kesepakatan dengan pemilik warung, akhirnya, kami disiapkan dua ayam yang langsung disembelih dan juga langsung masak nasi. Pada saat itu, hujan mulai turun. Saya kira makanan siap, perlu menunggu waktu lama, rupanya hanya sekitar 30 menit ayam dan nasi plus sambal sudah siap dimakan. Namanya, kami pesepeda yang sedang kelaparan, hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit, gundukan beberapa tempat nasi habis, bahkan ayam pun, sampai tulangnya juga habis. Oh yeach pada saat itu peserta tinggal 15 orang, yang lainnya terpisah dan kemungkinan tidak meneruskan perjalanan.
Keenam, top markotop; keren markeren, setelah hujan reda, akhirnya kami semua sepakat menuju puncak gunung galunggung yang jaraknya sekitar 3 km dengan tanjakan yang luar biasa. Sesampai parkiran mobil terakir, untuk menuju puncak kawah, harus melalui tangga yang berjumlah 600 anak tangga. Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB, akhirnya, kami memutuskan kepuncak tidak melewati tangga, tapi melewati jalur pasir, mengitari bukit dengan 75 % sepeda harus dipanggul. Setelah dipuncak angin sangat kencang dan situasi sudah sangat gelap. Akhirnya diputuskan untuk turun tidak melalui tangga, sebab kalau dinaiki dalam kondisi gelap sangat berbahaya. Kami memilih turun melewati jalur pasir yang berbeda dengan ketika naik. Turun dalam kondisi gelap, rupanya, lebih punya nyali, sebab tidak bisa melihat apa-apa, kecuali suara desiran pasir dan sedikit pepohonan. Akhirnya sampailah kami, ke tempat parkir. Oh yeach … ketika naik ke puncak, yang sepeda harus dipanggul, peserta tinggal 7 orang, lainnya sudah pada tumbang menunggu dibawah. Setelah itu, kami turun dikegelapan malam melalui jalan aspal berlobang, menuju parkiran yang dibawah. Parkiran di Gunung Galunggung ada dua, yaitu parkiran pertama dekat kolam renang, dan parkiran kedua, untuk persiapan naik 600 anak tangga. Ada sebuah kejadian yang sangat memerlukan kesabaran, salah satu peserta tas yang berisi hp dll tertinggal di puncak Gunung Galunggung, akhirnya mereka kembali diantar kendaraan dan harus menikmati 600 tangga, alhamdulillah barangnya ketemu, walaupun kejadian ini, menghambat aktivitas lainnya. Setelah itu, kami berpisah dengan rombongan, sebab mereka harus segera pulang ke Tasik sekitar pukul 20.00 WIB dan akhirnya kami berdua, memutuskan untuk beredam di air hangat sekitar 30 Menit, sebab nggak enak rasanya badan penuh pasir dan mau langsung pulang ke Bandung.
Ketujuh; top markotop; keren markeren, setelah kami berendam, dan bersih bersih badan, pukul 22.05 kami melakukan perjalanan menuju Bandung, sebelum menuju Bandung mengecek dulu rombongan, rupanya mereka semua sudah sampai rumah masing-masing. Perjalanan Bandung Tasik, biasanya bisa ditemuh 2.5 jam sampai 3 jam, namun karena sahabat kami sebagai pengendali mobil sangat kelelahan, padahal tidak ikut bersepeda, hanya mereka ada tugas aktivitas lain. Akhirnya perjalanan ditempuh 7 jam, sebab harus berhenti tiga kali. Pemberhentian pertama, saya lupa tematnya, antara ingat dan lupa, sebab tertidur pulas, tapi yang jelas dekat pom bensin, pemberhentian kedua setelah masuk tol Cilenyi, dan pemberhentian ketiga setelah kami keluar tol Pasteur. Khusus tol, Pasteur kelihatannya sangat lama, sekitar dua jam kami berdua tertidur sangat pulas, lima puluh meter setelah keluar tol Pasteur. Padahal jarak tempuh ke rumah kami tinggal dua kilo saja.
Ahirnya, sampai rumah pukul 04.30 WIB. Kemudian, shalat Subuh, istri sambil tersenyum, baru pulang shalat subuh di masjid, menyediakan nasi pepes ayam dan makanan kecil, juga tidak lupa teh manis. Kami beserta sahabat kami, melahapnya tanpa basa basi. Oh yeach … lupa …alhamdulillah, selama kami menikah, istriku yang cantik ini, terutama cantik hatinya, tidak pernah marah atau berubah majah menjadi redup dan kesal kalau suaminya pulang malam atau telat karena adanya jadwal tak terduga. Istriku, aku sangat mencintaimu.
Ada sedikit yang terlupakan, ketika kami berangkat ke Tasik, agar nyaman diperjalanan, membawa bantal dan selimut, waktu itu, memakai bantal dan selimut putriku yang bernama Annisaa Shabrina, karena putriku yang masih kelas enam SD ini punya jiwa entrepreneurship, sesuai dengan perjanjian, saya harus membayar sewa Rp. 5000,- (Lima ribu ruiah) per hari, karena saya berubah jadwal, akhirnya harus membayar Rp. 10.000,- (Sepeluh ribu ruiah). Ketika membayar, sambil bertanya:”Uangnya untuk apa?”. Sambil lari keluar, untuk persiapan pergi sekolah, dia menjawab:”Belanja pernik-pernik, dan dijual ke teman-teman pak”. Wah …. anak sekarang, kecil-kecil sudah mulai belajar berpenghasilan.
Berani hadapi tantangan “Top markotop; kren markeren”, dalam menghadapi perjalanan kehidupan yang sering tidak sesuai dengan rencana awal atau lebih senang hidup sesuai dengan rencana, padahal yang tidak sesuai dengan rencana lebih “top markotop; kren surekren” !!! Bagaimana pendapat Anda ???


Comments»
emang top markotop dan keren sukeren bener guru ku yang satu ini. udah badan jadi sehat, pikiran tetep fresh.
yang pasti kita memang hanya bisa merencanakan dan menikmati prosesnya, meskipun kadang tidak sesuai dengan planning kita, dan itulah hidup.
kata guru saya di pesantren, hidup itu praktek, bukan sekedar teori, tapi tanpa tau teori, hidup tidak akan bermakna.
kadang yang tidak sesuai dengan rencana memang lebih menantang, tapi kalo kita tidak pernah merencanakan sesuatu untuk hidup, bukankah itu sesuatu yang sangat konyol dan membuat kita tidak pernah memiliki prioritas dan target.
wallau a’lam
Apa kabar om Sigit, saya pingin sepedahan di Semarang atau daerah kendal. Biasanyasaya sering mengadakan kegiatan di Semarang, terutama masalah manajemen stratejik di beberapa perusahaan. Nanti dibantu yeach, sepedahan disana.
Mari hidup punya rencana, namun hidup tidak boleh terjebak dengan rencana, agar top markotop. Sebab, rencana buatan sang Maha Perencana, jauh lebih kren markeren.
Ini komentar sahabatku ahli IT di Jakarta yang juga hobi bersepeda, namun komentar ini dikirim melalui email.
WOALAH MAS….UENAKE….BERENDEM..DAPAT GANK BARU….TRUS INI LHO YG BIKIN
AKU NGIRI… Ahirnya, sampai rumah pukul 04.30 WIB. Kemudian, shalat Subuh,
istri sambil tersenyum, baru pulang shalat subuh di masjid, menyediakan nasi
pepes ayam dan makanan kecil, juga tidak lupa teh manis. Kami beserta
sahabat kami, melahapnya tanpa basa basi. Oh yeach … lupa
…alhamdulillah, selama kami menikah, istriku yang cantik ini, terutama
cantik hatinya, tidak pernah marah atau berubah majah menjadi redup dan
kesal kalau suaminya pulang malam atau telat karena adanya jadwal tak
terduga. Istriku, aku sangat mencintaimu.
WES…TOP MARKOTOP……………………………….KATANYA TEMEN2 MAU KE
KAMPUNG NAGA MAS..GARUT…AKU SING NGIKUT BAE..
Seberapa besarkah porsi yang cocok untuk setia tetap pada rencana atau keluar darinya. Dan kapan harus berbuat salah satunya? Wah sptnya harus tau kondisi diri dong berarti ya. Biar lebih paham akan diri sendiri gmn ya kyknya dengan byk mencoba kedua hal tsb & mengevaluasi hasilnya bisa deh. Aahh iya minta petunjuk juga sama yang di atas ga boleh lupa sisanya tinggal nikmatin ^^
Pak Amri ada yang kurang Pak dari istilah Top Markotop; Kren Markeren Bapak terutama pas di bagian menikmati sate maranggi, lalu bagian nasi pepes ayam dan makanan kecil, juga tidak lupa teh manis yaitu MAKNYUUSSS MARKUNYUSSS….
Apa kabar om Bagus,
Wah .. kalau begitu ada Top Markotop, Kren Mmarkeren, Maknyuuus Markunyusss, teru juga Ceng Markeceng.
MAksudnya adalah, kita harus siap apabila semua rencana kita melenceng, se-melenceng-melencengnya. Dan menikmati, kemelencengan rencana kita, agar kemelencengan itu, penuh produktivitas yang optimal
Berarti intinya adalah “bersyukur”
Segala sesuatu yang didapat atau terjadi kalau kita pandang positif dengan ‘mensyukuri’. Maka akan didapat sesuatu yang positif juga.
Untuk itu bersahabatlah dengan perubahan, maka perubahan yang terjadi akan menjadi teman yang menyenangkan.
Tul… gak Mas ?
Apa kabar om Eka ….
Yes… intinya ada dua, ketika lapang bersyukur dan ketika sempit bersabar.
Masalahnya adalah, bersyukur lebih sulit dibanding bersabar.
Apabila punya Sabar dan syukur, muncul yang namanya “Bersahabat” dengan perubahan he..he..
Yang paling super top markotop keren markeren adalah yang nomor lima: “akhirnya, kami agak “menipu” panitia, yaitu izin ke kamar kecil, padahal kabur ke penginapan.”
Seusai itu panitia pasti mendapat pelajaran paling top markotop keren markeren, yakni: JANGAN SEKALI-KALI MEMBIARKAN PEMBICARA IZIN KE KAMAR KECIL, hehehehe
Apa kabar om Indra, kadang-kadang hidup harus menipu positif, sebab kalau sy nggak izin kecing, kehilangan dech puncak dan kawah Gunung Galunggung he..he..
Kamar kecil, aku terima kasih padamu.
wah…,memang top markotop dan luar biasa di tengah aktifitas yang padat masih bisa bersepeda keliling kota tasikmalaya.
hehehe apa lagi yang menyiapkan istri tercinta tambah keren markeren!!!
yang paling top markotop lagi yang nomor 6 itu nyampek rumah langsung melahap pepes ayam
Apa kabar om Sakra ….. salam kenal
Kalau ada waktu mari sepedahan bareng.
Bersepeda adalah pekerjaan dan jadi konsultan adalah hobi he..he.. agar Topmarkotop dan krenmarkeren