Suka Warna 11 January, 2008
Posted by AMRI - Knowledge Entrepreneur in : mba , trackbackNamanya suka warna, maka warna keindahan disana sangat bervariatif dan menyenangkan, walaupun disana-sini, sudah banyak dirusak oleh orang-orang yang kaya harta namun miskin hati nurani, dan juga miskin harta ditambah miskin hati nurani. Sehingga, keindahan alam yang diciptakan sang Maha Pencipta, dengan tidak punya rasa malu kita sering merusaknya.
Ok … saya tidak membahas masalah itu lebih panjang lagi, sebab tidak akan ada habisnya, kecuali kita semua punya kekayaan hati untuk menjaga kekayaan keindahan yang sudah diberikan oleh sang Pencipta di daerah sekitar Gunung Tangkuban Parahu dan Gunung Burangrang.
Pada tanggal 10 Januari 2008 kita baru 10 hari memasuki tahun baru Masehi, dan pada tanggal itu, kita memasuki tahun baru Hijriah 14 29, dua tahun yang berbeda ini, punya kemaknaan yang sama yaitu hari dan tahun selalu berubah dan berubah menjadi semakin banyak, tapi umur kita semakin berkurang.
Seperti biasa, kalau hari libur, apalagi libur panjang, kalau istilah pemerintahan adalah cuti bersama. Saya sering mendapat pesanan melalui sms, telepon, fax, atau email dan chating, yang intinya adalah temen-temen dari pelosok Nusantara ingin berlibur di Bandung dan mengisi sebagian waktunya untuk bersepeda.
Sebagai sahabat, tentunya saya sangat senang sekali, disamping bisa menjalin silaturahmi, juga bisa dijadikan ajang jejaring bisnis dengan modal murah meriah dan sehat lagi.
Pukul 07.30 WIB, seperti biasa, temen-temen sudah berkumpul di Gasibu Bandung, tapi saya tidak ikut kesana, sebab sebagian teman mau meluncur kedaerah kami yaitu sekitar Jl. Setiabudi. Karena menunggu banyak teman, akhirnya agak sedikit telat, namun rombongan masih terjaga stamina semangatnya.
Rombongan, setelah sarapan pagi di “Foot Spot” Daarut Tauhiid, kami membawanya ke Pondok Hijau, Setiabudi Regensi, Parompong, Kavaleri pasukan berkuda, Villa Merah, Pabrik Teh, perkebunan teh Suka Warna, menyisir perbukitan Tangkuban Parahau, Turunan Jaya Giri, makan siang agak kesorean di Ayam Bakar Brebes, Turunan Cijengkol sambil hujan deras sekali, dan pulang masing-masing.
Umur peserta sangat bervariatif antara 19 tahun sampai 63 tahun, jenis sepeda mulai harga 1 juta sampai 55 juta bahkan ada yang sepedahnya dijual saja nggak laku, karena sangat jelek, pekerjaannya mulai seorang pembisnis, investor, penerjun payung, pelatih golf, eksekutif, karyawan supervisor, karyawan biasa, mahasiswa, pensiunan dan bahkan ada yang baru di PHK dari pekerjaan. Semua jenis variasi itu, berkumpul tanpa ada kesombongan dan keminderan, semuanya senang-senang saja. Inilah ciri bersepeda, tidak berbicara status apapun.
Karena pesertanya sangat bervariatif, maka waktu tempuh menjadi sangat panjang, tapi menyenangkan, kemudian kami berpisah, saya sampai rumah pukul 17.00 dengan pakaian basah kuyup penuh semangat, mungkin yang lain sampai pukul 19.00 WIB, sebab perjalanan ada yang masih jauh dan kondisi hujan lebat.
Bicara peluang bisnis dan pencerahan hidup, insyaAllah sangat banyak. Apa saja itu? Rahasia dong he..he… kecuali kalau temen-temen mau bersepeda bareng, baru dapat bocoran, atau bahkan belum dapat bocoranpun, temen-temen sudah mendapat pencerahan dan peluang bisnis sendiri.
Rahmat Sang Pencipta yang Maha Kaya dan Maha Kuasa, menyediakan peluang jejaring bisnis dan pencerahan yang bertebaran dimana-mana. Permasalahannya adalah apakah kita selalu punya semangat stamina silaturahmi atau tidak. Itu saja kuncinya.
Berani menghadapi semangat stamina bersepeda agar sehat rekening fisik, rekening hati, dan tentunya rekening keuangan kita, atau kita miskin semangat stamina kesehatan rekening fisik, rekening hati, dan rekening keuangan!!! Bagaimana Pendapat Anda???



Comments»
Asslkm..
2 thn baru yg berbeda dan kemeriahan yg berbeda pula..!!
Jadi pengen bersepeda lagi kayak waktu SMA dulu ni OM AMRI..!!
memang bersepeda itu olah raga murah dan menyehatkan apalagi kalo bersepada bareng-bareng pasti punya banyak teman dari beberapa usia dan kalangan..
Semoga tetep semangat bersepada..
Apa kapar, mas. Wawan ..
Dengan bersepeda, disamping sehat, dan banyak jejaring, juga bisa hemat uang. Uang itu, bisa untuk investasi agar berkelimpahan keuangan.
mo nanya pak amri.. kalau mau silaturahmi apakah sebaiknya harus pilih-pilih orangnya dulu pak? misalnya kita silaturrahmi karena kemungkinan akan mendapatkan keuntungan harta, keuntungan pahala atau keuntungan ilmu. kalau sillaturahmi malah rugi harta, buang-buang waktu dan malah mendapat dosa bagaimana itu pak?
Assalaamu’alaikum wrwb.
Mas Amri, saya mengikuti ‘kuliah’ dari njenengan sejak masih di Bandung dan sejak njenengan muncul di MQ. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di blog ini. Moga jadi interaksi yang barokah.
By the way, saya kesengsem berat pingin punya MTB Mas.. tapi belom kesampaian. Mohon do’a ya Mas.
Ini juga ada sepeda, saya bersyukur. (Udah sampai ke Borobudur lho dari Godean-Sleman ini.. nggak kalah dengan sepedal lain
Terimakasih Mas.. Selamat berkarya untuk ummah.
Ass.wr.wb
Pak Amri, terimakasih atas motivasinya, semoga menjadi wacana yang menyemangati kehidupan ini.
Lain kali kalau ke Bontang lagi, jangan bawa sepeda cuma satu, tapi bawa dua atau tiga untuk doorprize, h h h
Selamat berjuang, sukses selalu
Wassalam
Abdul Yajid
InsyaAllah pak. Yazid, saya akan ke Bontang lagi sambil bawa sepeda yang banyak, biar kita semua sehat. Ingat ref lagu “WALAUPUN HIDUP 1000 TAHUN” kalau tak sembahyang apa gunanya, DIRUBAH menjadi Walaupun hidup seribu tahun nggak berani USAHA apa gunanya HA..HA..HA..
Halloo tukangpin, saya pingin sepedahan di Jogja, nanti dipandu yeach, sambil menikmati rezeki berkelimpahan di jalan yang sudah Allah sediakan he..he..
Apa kabar mas. Hafid, apakah hidup di Korea masih Everday is Manday? Maksudnya kerja terus he..he.. silaturahmi tidak usah pilih-pilih, sebab setiap kejadian banyak hikmahnya. Jadi kita harus jadi pencerah kehidupan yang banyak sisi kegelappan
iya bener juga ya pak… bisa menjadi cahaya di kegelapan. tapi takutnya cahayanya padam, soalnya anginya kenceng sekali pak. :d